Menginap di Sebuah Kastil dalam Puisimu
“Izinkan aku, semalam saja, menginap di sebuah kastil dalam puisimu.”
Aku terpekur membaca tulisan tangan sahabatku. Melihatnya seperti itu seperti melihat diriku sendiri empat tahun yang silam. Saat-saat dimana aku diam dalam kebisuanku. Merunduk dalam kerisauanku. Hanya saja dia tak setegar seperti aku.
Andai dia memiliki sedikit keberanian, sedikit saja, mungkin saat ini dia tak akan tidur dalam peti kayu yang menghangatkannya itu. Aku hanya menatapnya sayu. Tak ada yang dapat aku lakukan lagi. Hanya dalam hati ini saja yang berdoa; ” Tuhan terima dia dipangkuan-Mu.”
* Tulisan ini diposting pertama kali di sini. Tulisan ini kemudian mempertemukan saya dengan gadis ini. Saya pindahkan ke blog ini lewat permohonan izin yang saya tulis melalui pesan ke akun friendsternya. Isi pesannya bisa dilihat di sini. Sebentar lagi situs itu akan menghapus seluruh data penggunanya. Dan saya ga ingin tulisan yang mempertemukan saya dengannya ini hilang begitu saja.
